Thursday, October 30, 2014

Stairway to Self Publishing


Self publishing!

Yes, I said self publishing!
Terlalu banyak pertanyaan tentang self publishing. Terlalu banyak apa, siapa, kapan, dimana, mengapa dan bagaimana. Intinya adalah, we want to publish our writings, we want our works can be read by so many people and we want to get appreciation about what we have done ‘in our head’.

Banyak sekali tujuan yang menjadi dasar mengapa kita ingin menerbitkan tulisan kita dalam bentuk buku. Saya ambil salah satunya, yang memang menjadi tujuan saya selama ini, yaitu memuaskan hasrat bercerita. Hmm, tidak usah mengerutkan kening membacanya, saya akan jelaskan mengapa ini merupakan tujuan yang ‘mulia’ bagi saya.

Monday, May 20, 2013

INFINITIVE - after interrogative conjunction




Hmm... quite late to post this, but I have to do it now though it's too late...

Today's lesson is about infinitive after interrogative conjunction. I read the lesson book and it showed me about this issue.

Firstly, after certain verbs, it is possible to use the interrogative conjunction how, what, who, where, when or whether with a to-infinitive.

for examples:

  • I wonder who to invite.
  • Can you tell me how to get to the station?
  • Show us what to do.
  • I don't know whether to answer his letter.
  • Ask my father where to park the car.
  • Did you find out when to pay?
The verbs are know, ask, tell, explain, show, wonder, consider, find out, understand, and others with similar meanings.

Secondly, note that it is not possible to begin a question with How to...? Who to...?

These are typical mistakes:

  1. How to tell her?
  2. Who to pay?
Instead, we say, for examples:

  1. How shall I tell her?
  2. How can I tell you?
  3. Who should I pay?
  4. Who did pay the bill?

'by' and 'near'

Picture is credited to http://ptiteouch.deviantart.com/art/letters-73769764


I opened the book, and it was page 125. I studied about by and near. What's the difference...?

In fact, by means just at the side of; something that is by you may be closer than something that is near you.

So I compared the examples:

  1. We live near the sea (perhaps five kilometers away).
  2. We live by the sea (we can see it).
Then I knew the meaning of a clause, "Please, stand by me, Dear."

So when a girl say it to me, she wants me not only standing near her, but standing by her instead (so she can see me always).

Oh, what a romantic statement!

So I made some sentences used by and near:

I live near Pekayon. Actually, my residence is by Metropolitan Mall (I can see the mall from my window). And near my residence, it's about 1 kilometer to the South, there's a laundry service corner that I always use. When I go to that laundry service corner, there's a porridge stall standing by the main road. I can see it from there.

Sunday, December 2, 2012

Ask for Description

When we ask for description of someone or something, we can use: 'what' + to be + 'like'?


  • What is your bike like?
  • What is the weather like in winter?
  • What is Indonesian food like?
We usually don't use the word 'like' in the answer, unless we are comparing two things.

  • The weather is wet and cold.
  • The weather in winter is not like rain season in your country.

Tuesday, June 12, 2012

TANGGUNG JAWAB


Sebagai pelajar kita pasti pernah dong mendapat pekerjaan rumah.  Apa yang kita lakukan dengan PR kita tersebut? Apakah kita akan menyelesaikannya atau malah membiarkannya begitu saja? Terlepas suka atau tidak, sebagai pelajar kita punya kewajiban untuk menyelesaikan pekerjaan rumah yang diberikan oleh guru kita.  Namun bagaimana sikap kita dalam mengerjakan tugas tersebut? Apakah akan kita selesaikan dengan penuh totalitas atau malah masa bodo dengan tugas tersebut?

Seringkali kita merasa tugas sekolah diberikan hanya untuk mereka yang pintar, buat yang tidak bisa, tugas hanya akan menjadi beban terberat dalam hidup.  Oh, tidak, guruku memberi PR lagi – biasanya itu yang ada di benak kita.  Itu adalah pikiran salah, kita harus merubahnya.

Atau suatu ketika kita berjanji dengan seorang sahabat untuk hadir di sebuah acara.  Ternyata sahabat kita tidak hadir tanpa memberi alasan yang jelas.  Bagaimana perasaan kita? Apa yang ada di pikiran kita? Tentu rasanya sebal dan kesal kan ?

Nah, kita perlu pikirkan lagi ketika mendapat tugas dari guru di sekolah.  Untuk apa sih guru memberi tugas pada kita.  Tentu tujuan mereka sama sekali bukan untuk membebani kita, mereka meminta kita melakukan latihan terhadap materi bidang studi yang mereka berikan dengan tugas atau PR tersebut.  Kita juga perlu tanamkan niat baik kita bersekolah.  Apakah selama ini kita pulang pergi ke sekolah hanya untuk bertemu teman-teman atau main-main? Duh, sayang dong! segala jerih payah kita hanya untuk main-main.  Kita perlu tanamkan dalam benak kita bahwa ke sekolah merupakan sebuah jalan menuju pribadi sukses di masa depan.  Mau jadi apapun kita di masa depan nanti bergantung pada sikap dan keadaan kita sekarang.

Begitu pula dengan janji dengan orang lain.  Jika tidak kita tepati maka artinya kita tidak menghargai janji yang sudah kita buat tersebut.  Lantas untuk apa berjanji kalau hanya untuk tidak ditepati.

Di sinilah perlunya rasa tanggung jawab ada dalam diri kita agar setiap yang kita lakukan berlandaskan niat baik dan penuh totalitas.

Tanggung jawab itu sendiri bermakna mengerjakan apa yang sudah seharusnya kita kerjakan atau menepati apa yang sudah kita janjikan dengan sebaik-baiknya dan dengan penuh kesungguhan.  Dan tanggung jawab yang diembankan oleh sekelompok orang juga merupakan tanggung jawab setiap pribadi dalam kelompok tersebut.  Jadi tidak ada tuh istilah menyalahkan orang lain ketika sebuah kelompok tidak bisa mengerjakan kewajiban yang diberikan pada mereka, karena keberhasilan sebuah kelompok menjadi tanggung semua pihak dalam kelompok tersebut.  

Nah, yang paling utama agar kita bisa menjadi pribadi yang bertanggung jawab adalah perasaan ikut andil dalam sebuah kewajiban.  Artinya ketika kewajiban tersebut tidak bisa diselesaikan dengan baik maka kita harus bercermin pada diri sendiri, ternyata kita belum bisa melakukannya dengan baik dan bukan menyalahkan orang lain apalagi menyalahkan keadaan yang tidak menguntungkan.

Jadi kalau ada PR, ya kita harus menyelesaikannya dengan sungguh-sungguh karena itu merupakan bagian kewajiban kita sebagai pelajar untuk menuju sukses di masa depan.  Kalau kita cuek dan tidak perduli, maka rasanya wajar Tuhan pun tidak akan perduli pada keadaan kita di masa depan. Nah loh, sangat tidak enak kan kalau urusannya sudah sampai pada nasib buruk kita.

Atau ketika kita sudah berjanji dengan orang lain maka dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan kita harus menepatinya bahkan meskipun kita harus mendaki gunung dan menyeberangi lautan demi terpenuhinya janji tersebut.  Agak berlebihan mungkin, yah, itu hanya gambaran betapa kita harus menghargai diri kita sendiri yang terlibat dalam sebuah perjanjian.  Dengan menghargai janji yang yang sudah disepakati berarti kita juga menghargai orang lain dan diri sendiri, dan  penghargaan tertinggi atas itu semua adalah kepercayaan orang lain pada kita dan kepercayaan kita pada orang lain.  Kalau orang lain sudah percaya pada kita, maka akan ada banyak kemudahan saat berurusan dengan orang tersebut.

Oke, itu semua adalah contoh sikap bertanggung jawab bagi kita sebagai seorang pelajar.  Tentunya kita harus bisa mengaplikasikan sikap bertanggung jawab  di semua hal dalam hidup kita.  Memang tidak mudah, banyak sekali tantangannya untuk bisa bertanggung jawab secara optimal.  Tapi tenang, niat baik dan tulus serta doa dan semangat akan menjadikan setiap tanggung jawab yang kita emban bukan sebagai beban tetapi sebagai sesuatu yang harus kita lakukan demi terwujudnya masa depan gemilang.

Apalagi kalau ternyata kita ikut aktif dalam sebuah organisasi, maka aplikasi tanggung jawab mutlak dibutuhkan.  Hancurnya sebuah organisasi biasanya bersumber pada pribadi-pribadi yang tidak bertanggung jawab terhadap tugasnya di dalam organisasi tersebut.  Makanya, sebelum terjun dalam sebuah organisasi perlu kita pikirkan masak-masak apakah organisasi tersebut bisa mewakili ideologi dan aspirasi kita sehingga kita bisa merasa ikut andil dalam setiap kegiatannya dan kita merasa dibutuhkan dalam organisasi tersebut.  Koordinasi dan komunikasi yang baik dalam sebuah organisasi bisa menjadi sarana penyampaian tanggung jawab yang bagus.  Kalau komunikasi sering salah, informasi sering keliru dan koordinasi sering gagal maka sikap tanggung jawab akan menjadi berat dilakukan.

Lantas adakah trik-trik hebat untuk membiasakan diri bertanggung jawab? Ya, ada. Beberapa hal berikut ini bisa membantu kita bersikap bertanggung jawab dalam setiap kegiatan kita. 

  1. Tentukan skala prioritas.  Betul banget semua kewajiban kita harus dilaksanakan, tapi apakah bisa kita melakukannya dalam waktu bersamaan? Tentu tidak, makanya, akan lebih baik ketika kita menentukan skala prioritas hal manakah yang harus kita laksanakan terlebih dahulu.  Dan kalau sudah selesai dalam satu hal barulah kita bisa melakukan hal lain.  Misalnya, karena kita seorang pelajar berarti prioritas utama kita adalah belajar.  Jadi kalau ada janji atau kegiatan lain harus dinomorduakan setelah belajar.
  2. Fokus pada program dan penjadwalan.  Ketika kita sudah menyusun schedule, maka sudah seharusnya kita berusaha semaksimal mungkin melaksanakan semua yang sudah tertulis dalam schedule tersebut.  Melalaikan satu atau dua hal dalam schedule akan berdampak tidak fokusnya kita pada kewajiban lain dan itu artinya kita tidak bisa bertanggung jawab dengan apa yang sudah kita tetapkan. 
  3. Bersikap tegas. Ya, benar memang perlu sikap tegas agar bisa menjadi orang yang bertanggung jawab.  Ketika ada satu atau dua hal yang beresiko menggagalkan program atau kegiatan kita maka kita harus tegas menyikapinya dan bertanggung jawab sepenuhnya.  Katakan tidak pada teman yang mengajak nonton saat kita sedang belajar, katakan juga tidak saat Ibu meminta kita ikut berbelanja saat kita sedang sibuk dengan tugas sekolah.  Beri pengertian pada orang-orang di sekitar kita bahwa kita perlu bertanggung jawab.  Kita bisa katakan, “Maaf ya saya selesaikan tugas saya dulu, setelah itu saya akan ikut dengan kamu”.   
Oke, yuk menjadi pribadi yang bertanggung jawab demi kesuksesan di masa depan!